Pray Of Hope
Fitriana Lestari
Rasanya
berat aku menghembuskan nafas ini. Berat di dada terasa menyesakkan. Sekelebat
bayang, kembali mengusik kedamaian hati. kau? Kenapa pertemuan denganmu harus
terjadi lagi? Setelah setahun lamanya aku mengubur kenangan menyakitkan itu.
Dan sekarang luka itu kembali terkuak.
Terdiam sejenak dalam renungan. Kala
bayang wajah pria itu datang menyapa. Waktupun berputar kebelakang membuka
memori yang dulu sempat ku benci.
Sebut saja, segala sesuatu yang tertinggal itu bernama kenangan. Aku akan
menoleh ke belakang sesaat dan menemukannya masih di tempat yang sama. Ingatan
yang begitu jelas, surat undangan yang
ku genggam saat ini. Ku temukan dalam selipan buku dearyku.
Sepucuk surat undangan mengingatkan
ku pada satu tahun tahun silam, pertama kalinya aku mengungkapkan perasaan pada
seorang pria. Kata-kata yang sedikit gila untuk pria itu dengar, tapi memang
itu adanya.
Dari kejauhan sudah terlihat pria
itu duduk tampak sedang menunggu diriku disebuah bangku panjang di Taman. Dia
tampak rapi, dengan baju koko merah sepadan dengan celana hitam yang
dikenakannya. Dengan pakaian seperti itu terlihat pria yang taat beribadah.
Sedangkan aku tampak gaul dengan baju coklat, sepadan dengan celana jeans hitam
yang ku kenakan. Aku tidak bisa membohongi diri. Sms - sms manis untuk
mengingatkan jangan lupa makan, shalat, dan lantunan ayat suci yang sering Aku
dengar darinya membuatku menaruh perasaan. mungkin kali ini aku yang harus
mengatakannya.
“Apa arti
kita selama ini bang?”
Dengan
nada penuh harap.
“Tar,
apa maksud ucapan kamu?”
Seketika
memalingkan pandangannya kepadaku. “Aku tahu
Abang tidak menginginkan pacaran, yang abang inginkan ta’aruf. Aku tak bisa
membohongi diriku sendiri terlalu lama, bang. Aku hanya ingin abang tahu kalau
aku mencintai abang.”
Aku mencoba menjelaskan.
“Apa! Secepat itu kamu menaruh rasa
untukku, Tar?
Tapi, maaf, dari pertama aku kenal
kamu, aku hanya menganggapmu sebagai
Adik, dan tidak lebih dari itu.”
Pria itu mencoba menjawab jujur. “Abang tak sedikit pun menyukaiku?
Lalu, apa arti semua ini, lagu-lagu yang sering abang nyanyikan lewat
telepon? Kata-kata yang membuat hatiku
nyaman dan perhatian-perhatian abang selama ini? Ajakan untuk sholat? Dan
lantunan ayat-ayat suci yang sering abang lantunkan untukku? Apa arti semua itu
bang?”
Mataku merah, ucapanku penuh
kekecewaan.
“Maafkan abang, Abang tidak bisa
menerima perasaanmu karena hati abang sudah untuk wanita lain. Sebenarnya,
Abang menemuimu hanya ingin memberikan ini?”
Pria itu menyodorkan undangan
pernikahan. “Abang akan menikah?” Mataku yang semula merah
tiba-tiba menetes.
“Iya, Tar. Abang akan menikah dengan
wanita lulusan pesantren. Abang mengenalnya lewat Ta’aruf. Maafkan Abang ya,
kalau sudah membuatmu kecewa.”
Sulit
bagiku menerima kenyataan ini. Kemudian aku pulang ku genggam sepucuk undangan
pernikahan pria yang sangat aku cintai.
Hari tanpa matahari,
gelap tanpa ada cahaya. Aku hanya seekor salmon kecil yang kembali untuk mati.
Pria itu tetap duduk dengan senyuman, Tapi aku duduk dengan senyuman yang
dibalut kekecewaan. Indah memang jika aku masih bisa melihatnya tersenyum.
Tapi cobalah sekali saja dia lihat bagaimana aku. Seperti
pecahan kaca aku terserak dan berantakan. Kenapa dia hadir namun hanya
sebentar. Bahkan tidak lebih lama dari daur hidup seekor nyamuk.
Airmataku menetes, isak
tangisku pun sulit dihentikan. Hari-hariku selalu muram, kehilangan harapan,
seperti burung kehilangan satu sayap. Setiap kali melihat sepuncuk undangan
yang tergeletak diatas meja kamarku, hatiku semakin teriris sakit.
***
Kejadian satu tahun silam itu, menyadarkan ku bahwa cinta yang harus ku
kejar adalah cinta Allah. selain itu juga jodoh adalah cerminan. Mecari calon
imam yang shalih tidak akan pernah di dapatkan melalui proses pacaran. Sejak
itu, aku memutuskan untuk tidak pacaran. Hijrah menuju jalan lurus Allah.
Sore ini, hujan dengan derasnya
membasahi bumi, aku baru saja terbuai dalam masalalu ku. Aku memeluk tubuhku
sekuat hati. Butir-butiran manik menitis laju di atas pipi saat memikirkan
fitnah ke atasnya sangat menyakitkan. Ujian apakah ini? Ujian apakah ini? Aku
menangis sepuas hati.
Kata-kata yang amat menyingung
perasaanku, malah tanggapan teman-teman yang dulu pernah mengenalku semakin
menebal dalam telinga ku.
“Dia pikir, dia siapa? Lulusan
pesantren, sok pintar, sok paling benar. Siapa dia dahulu, bukankah lebih buruk
dari kita. Coba lihat masa lalunya, apakah dia tidak pernah pacaran, auratnya
pun terumbar kemana-mana. Lihat dia yang sok ingin menjadi ustadzah, tidak mau
pacaran. Terbuktikan saat ini siapa yang belum menikah”.
Sindiran itu menyusuk bak duri sembilu ke dalam hatiku. Sore
itu aku menatap tajam pesan di ponselku. Hatiku teriris sakit membaca kata-kata
itu, kata itu tertulis jelas untukku. Yang lebih menyakitkan lagi kata itu
tertulis dari sahabatku sendiri.
Sebagian besar teman-teman ku sudah menikah. Bahkan sebagian besar dari mereka
sudah memiliki anak. Hanya aku yang belum menikah, sungguh mereka menertawakanku
karna begitu sulitnya aku mendaatkan jodoh.
“Ya Allah, ampunkanlah dosa-dosaku Ya Allah. Andai
fitnah-fitnah ini hadir kerana dosa-dosa silam ku, aku mohon ampun ya Allah.
Mungkin inilah ujian yang kau berikan untuk menghapuskan dosa-dosaku. Ampuniku
ya Allah,” semakin ligat air mataku membasahi
pipi. ***
Dalam
proses hijrah aku akan menanti seseorang yang ku sebut pangeran surga.
Seseorang yang akan menyempurnakan agamaku. Entah sampai kapan penantian ku
berakhir. Namun, aku percaya dengan ketetapan-Nya.
Di
sana, apakah kau seseorang yang sedang dalam proses perbaikan diri sepertiku?
Apa kau juga sedang berjuang membanggakan kedua oragtuamu? Atau kau sedang
menungguku dan berikhtiar untuk menemukan cinta sejati sepertiku?
Betapa indah yang Allah rencanakan, sebuah
teta teki cinta yang sangat unik untuk dipecahkan. Selalu ku rangkai sepotong
puzle dimana dalam potongan puzle itu terlukis kisah cinta ku. Meski terkesan
sederhana, tapi Allah selalu saja bisa membuatku untuk terus belajar memaknai
arti cinta sesungguhnya. Arti cinta yang Allah Ridho’i.
Wahai
kau yang selalu ku lukis dalam ribuan doaku, bagaimana aku menemukanmu? Bahkan
sampai saat ini saja aku sama sekali tak memiliki radar untuk bisa menemukanmu.
Mungkin tidak untuk saat ini. Yang selalu ku percaya aku akan menemukanmu diwaktu yang sudah Allah tetapkan,
dimana waktu yang tepat dan disaat kita
sudah siap.
Aku
melukismu sebagai seseorang yang baik, shalih, santun, lemah lembut, dan sayang
kepadaku. Karena itu adalah seseorang yang pantas utuk menjadi imam ku, mampu
membimbing ku meraih surga Allah. Seseorang yang patas untuk menjadi pangeran
surga ku di akhirat kelak. Aku selalu percaya itu, karena akupun selalu
berusaha menjadi seperti itu. Baik, shalihah, santun, lemah lembut dan sayang
kepadamu. Meski aku masih jauh dari kata sempurna tapi aku selalu belajar untuk
menjadi seseorang yang lebih baik.
Aku
juga selalu berusaha untuk menantimu dalam keta’atan, melangkah dengan penuh
kesabaran menanti kehadiranmu. Percaya
janji Allah akan hadirnya dirimu pada waktu yang telah Allah tentukan. Saat ini
aku sedang mempersiapkan hati dan diriku untukmu. Aku selalu menjaga hati agar
aku tidak salah dalam melangkah menanti kau menjemputku.
Aku
selalu memohon agar Allah selalu menjaga kesucian hatiku. Aku tak ingin
cinta-cinta masa laluku masih membekas ketika kelak aku bertemu denganmu. Kisah
yang membuatku tak mau lagi bermain cinta tanpa adanya kata qabiltu. Aku ingin
benar-benar mengutuhkan cintaku ini hanya untukmu. Untuk seseorang yang akan
menuntunku pada cinta yang tak hanya indah didunia tapi juga bersemi hingga
surga-Nya.
Wahai
sepenggal nama yang tertulis di Lauhul Mahfudz inilah aku, seseorang yang telah
lama menantimu. Aku hanya wanita biasa, dengan kesabaran yag biasa dan dengan
kecantikan yang biasa pula. Akupun tak pernah luput dari cela dan dosa. Suatu
hari nanti kau akan temukanku dengan segala kekuranganku, namun aku yakin
hanyalah kau yang akan tetap bisa menerimaku, melengkapi kekuranganku, menjadi
pemimpin bagiku, dan mampu membimbingku.
Karena
itu, Allah kirimkan kau untukku. Maka, aku pun akan berusaha menjadi seperti
itu. Tulus menerimamu, melengkapi kekuranganmu, taat kepadamu, dan menjadi
makmum terbaik untukmu.
Wahai,
pemilik tulang rusukku, ini pertama kalinya kukirimkan surat untukmu. Entah
kapan untaian doa dalam aksaraku ini bisa tersampai kepadamu. Yang jelas aku
akan tetap melukis. Karena dengan melukismu dalam doaku, ku harap hati kita
bisa menjadi dekat, hingga kau semakin mendekat dan waktu itu pun tiba. Waktu
yang akan mempersatukan kita dalam ikatan pernikahan suci.
Hingga
masa itu, kuharap kau dan aku akan tetap bersabar memeluk waktu. Dengan terus
memperbaiki diri. Salam kenal dari diriku. Meski tak pernah kutahu kapan aku
akan menemukanmu, dan kapan kau akan menjemputku.
Siapapun kamu si pemilik tulang rusuk, aku menantikanmu di
batas waktu
Berharap keshalihanmu melengkapi agamaku.
Saat raga tak harus jumpa, biarlah rindu tumbuh tersiram
doa kepada engkau yang hatinya
masih Allah titipkan, mari kita berjuang untuk kehidupan kita sekarang.
Semoga sibukmu dan sibukku adalah
sibuk yang bermanfaat, yang akan mendatangkan hal yang bermanfaat, sibuk yang
Allah ridhoi, jaga dirimu, jaga imanmu, semoga kelak Allah mempertemukan kita
dimusim yang berbeda dengan hati yang berbeda.
Aku akan selalu menjaga hati untukmu. Insya Allah, aku tak
akan pernah bosan untuk melukismu dalam setiap doaku. Semoga Allah senantiasa
menggerahkan seribu balatentara malaikat untuk
menjaga dan memudahkan langkahmu. Amin.
Yang harus aku lakukan adalah belajar mencintai untuk
mengikhlaskan, bukan untuk memiliki. Tidak perlu sibuk mengejar cinta manusia,
cinta dari-NYA lah yang harus ku kejar. Meraih cinta-NYA agar kelak Sang
Pencipta yang mempersatukan ku dengan
seseorang yang juga mengejar cinta-NYA. Pantaskan diri di hadap-NYA, menanti
dalam taat, melangkah dalam sabar. Bila Dia sudah berkehendak siapa yang bisa
menolak, bila Dia sudah mengizinkan, siapa yang bisa menahan. Aku akan menanti
tanpa batas waktu. Penantianku akan berhenti di ujung waktu ketika aku sudah
dipertemukan oleh seseorang yang mempunyai tujuan sama sepertiku. Meraih cinta
yang di Ridha’i Allah.
_______________________________________________________________
_______________________________________________________________
Pray Of Hope lolos sebagai kontributor dalam event cerpen yang bertema "Di Ujung Penantian" yang diselenggarakan oleh Al-Qolam Media Lestari pada Februari-Maret 2016.

No comments:
Post a Comment