Showing posts with label PUISI. Show all posts
Showing posts with label PUISI. Show all posts

Sang Imam Bak Pangeran

oleh: Fitriana lestari


Adzan berkumandang subuh ini
Sebelum sang mentari terbit menerangi
Sebelum sinar indahnya hangat setiap kebekuan sanubari
Kau lebih dulu hadir menerangi
Kau lebih dulu bersinar hangatkan hati
Meskipun seharusnya matahari sudah nampak jam segini
Hadirmu sudah cukup menerangi walau tanpa mentari
Kabut asap masih merajai menutupi
Menghalangi pesona indahnya mega
Yang rutin menyapa diawal hari
Tapi tak mengapa bagiku
Karena kini hadirmu lebih dulu menyapaku
Walau sang mentari tak terbit sekalipun

Kau kekasih pujaan yang menjemputku dibatas waktu
Yang dahulu aku sempat terhalang
Oleh kabut tebal yang membuat hatiku kelabu
Tapi tidak kini
Kau lebih hangat dari mentari
Tidak ada lagi kabut asap yang menyelemuti
Kau tak hanya imam dalam sholatku
Tapi kau adalah pangeran surgaku


25 juni 2016

Di Ruang Senyum Kita Merindu

Oleh    : FitriAna Lestari



Adakah rahasia dalam isyarat senyummu
Senyum yang terpancar jelas sampai ke matamu
Bagai uraian kata-kata cinta
Bagai goresan getaran hati yang tak terkata
Dikala senyummu menyapa
Angin pun ikut berhembus mesra
Seakan senyummu membelaiku
Membelaiku dalam ruang jiwa
Lintas senyummu
Membuat desak nafasku menghirup rindu
Rasa rindu yang sesakkan dada
Terbawa rindu ke ujung mata
Dan mampu sentuhkan hati
Ingin ku pegang erat Dan halangi waktu
Agar senyummu pergi
Ku pejamkan mataku
Namun tak urung jua
Ku lihat senyummu pergi
Meski jalan ku hampa
Tak berani mencari makna
Hati hanya mampu menggumam

Di ruang senyum kita merindu

Hujan dan Kerinduan


Oleh : Fitriana lestari



Hujan...
Membuaiku dalam kerinduan
Rindu yang ingin ku sampaikan
Satu nama yang ku teriakkan
Dalam derasnya tetes hujan

Tak peduli kerasnya kilat menyambar
Meskipun rindu tak terumbar
Dalam hati ku sadar
Ku harus menanti dalam sabar

Tuhan, tolong sampaikan
Rasa rindu yang tersimpan
Rindu pada setiap tetesan
Tak selamanya mampu ku pendam

Selamatkan aku hujan
Ku titip rindu dalam sebuah harapan
Hinga di ujung penantian
Peluk aku dalam kerinduan


Cipayung Jakarta Timur, 06 mei 2016

Merangkai Waktu


Oleh : Fitriana lestari

Terbit dalam buku *Kata Kasih Untuk Ibu*



Rasanya berat aku menghembuskan nafas ini
Berat di dada terasa menyesakkan
Sekelebat bayang, kembali mengusik kedamaian hati
Terdiam  dalam renungan
Kala bayang wajah Ibu datang menyapa
Waktupun berputar kebelakang
Membuka memori yang pernah ku simpan
Memori itu bernama kenangan
Aku akan menoleh ke belakang sesaat
Dan menemukannya masih di tempat yang sama
Masih dengan kasih sayang yang sama
Namun dengan cerita yang berbeda
Sebelum waktu berputar ke depan
Aku yang selalu ada didekat mu Ibu
Tak sedikitpun aku mampu menjauh darimu
Tak mampu aku bernafas tanpamu
Kedewasaan ini membuatku jauh darimu
Jauh dari langkah kakimu
Tak mampu ku mencium aroma nafasmu
Namun aku pun tak mampu melupakanmu dari doaku
Ku yakin kaupun sama sepertiku Ibu
Akan ku coba merangkai seluruh waktuku

Yang tersisa untuk memberi hari-hari bahagia untukmu Ibu

Hembusan Nafasku

Hembusan Nafasku
Oleh : Fitriana Lestari



Ayah..
Kata-katanya bagai telaga sejuk
mengaliri relung-relung hatiku
Ayah yang selama ini tak pernah memanjakanku
Tak pernah memujiku.

Sifat keras nya selama ini
Agar ku punya hati sekeras baja untuk menapaki hidup
Ayah ingin aku menjadi sosok yang berbeda
Punya karakter dan prinsip yang berbeda.

Menjadi wanita tangguh
Menjadi seseorang
Menjadi orang dalam arti sebenarnya
Siap mengarungi kerasnya hidup                  

Disini kutulis cerita tentangnya
Nafas yang tak pernah terjerat dusta
Tekad yang tak koyak oleh masa
Seberapapun sakitnya kau tetap penuh cinta

Tanpa lelah kau korbankan segalanya untukku
 Dengan segenap rasa bangga dihati
Tak terbesit sejenak fikirkan lelahnya
kau terus berjalan diantara duri-duri

Terdiam sejenak dalam renungan
Kala bayang wajahnya datang menyapa
Waktupun berputar kebelakang
membuka memori kenangan kecilku. 

Terlihat senyum tulusnya
Terasa doa Ayah yang tak pernah henti.
 Tercipta kasih sayang tulusnya
Terasa pengorbanan nya tak pernah henti.

Di saat ku bahagia
Air mata kebahagiaan terpancar bersinar
Di saat ku sedih
Air mata doa tiada pernah berhenti

Tiada pernah mengeluh
Tiada pernah kecewa
Tiada pernah lelah Jiwa
sungguh indah akan kasih dan sayangnya
pengorbanannya ada disetiap hembusan nafasku

Terbit dalam buku kepadamu Ayah yang ku banggakan*


Cappucino Dalam Satu Harmoni

 Cappucino Dalam Satu Harmoni
Oleh  : Fitriana Lestari

Ini hanya secangkir kopi
Yang telah lekat diatas mejaku
Menemani risau dalam hati
Diantara rasa cinta  dan rindu

Secangkir kopi hangat
Harumnya terbawa uap
Bagai lintasan kabut-kabut
Melintas lewat dalam senyap

Bayang wajahmu melintas dalam angan
Inginku coba meraih wajah yang terbayang
Namun wajah itu seperti kabut kopi yang melayang
Ku tangkap, namun lenyap menghilang

Aroma cappucino yang perfecto
Irama rintik hujan dalam satu harmoni
Pahitnya rindu yang ku pendam
Bersama manisnya kenangan

Hingga diujung penantian
Dua rasa akan menyatu
Seperti gula dan kopi
Sebuah rasa dalam secangkir kopi


 

Menulis adalah obat segala kegelisahan yang menyelimuti hati

Ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf, semakin menjauh Yusuf darinya. Namun ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah datangkan Yusuf kepadanya.