Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

                                                            Memori Pada Secangkir Kopi


Bukit kemuning.                                                                                                         
Itulah desa kelahiranku. Sebuah desa kecil dengan beberapa dusun, RT/RW yang letak rumahnya saling berdekatan. Sebelum masuk desaku, seratus atau dua ratus langkah ke arah desaku sungai sekipi menjadi pemandangan pertama mengiri mata siapapun yang melewatinya. Di sepanjang sungai itu banyak pohon-pohon besar, seperti jati, karet, dan pinus. Disebelah utara setelah sungai kebun kopi terhampar luas  sejauh mata memandang. Ada juga beberapa petak sawah dipinggir sungai sekipi yang ditanami padi, tetapi tak seberapa dibanding pohon-pohon kopi yang tingginya kini sudah nyaris dua meter. Disanalah, di kebun kopi itu, aku mengais rezeki. Seperti desa lain di Sumatera, 

Tuhan memberkati desaku dengan tanah yang gembur, dan subur. Meskipun begitu  bapakku tak punya tanah berhektare-hektare  bapak hanya sekedar menjaga kebun milik oranglain hingga panen tiba hasil kopi akan dibagi dua oleh pemilik kebun. Tak mengapa walaupun demikian kebutuhan bapak sehari-hari selalu tercukupi. Bahkan untuk membiayai pendidikanku kelak adalah hasil dari kebun kopi.

Sejak kecil kata ibu aku sering diajak ke kebun, karena peran ibu untuk membantu bapak ibu selalu membawaku kemanapun ibu pergi yang tak lain pergi ke kebun.  Ketika aku balita pun ibu pernah menceritakan ketika aku tertidur bapak membuatkanku sebuah ayunan dengan sehelai kain yang ditali erat lalu diikat pada tangkai pohon cengkeh. Disaat aku pulas tidur kesempatan ibu membantu bapak  memetik kopi disaat musim panen tiba.

Beranjaknya remaja pun sering bapak mengajakku ke kebun meskipun aku seorang wanita tapi bapak selalu melatihku untuk menjadi wanita tangguh. Wanita yang tidak hanya pintar memasak, belajar dan mengaji saja tapi juga harus pintar bekerja.
Matahari mulai terbit, kehangatannya menusuk hingga sanubari. Kebetulan hari ini aku libur sekolah  seperti hari-hari libur biasanya aku dan bapak bersiap-siap berangkat ke kebun. Sedangkan ibu tetap dirumah bersama adik ku yang masih bayi.
“Bekalnya sudah dibawa belum nduk?”.                                                                                       
“Sudah pak,”
Kami pun bergegas berangkat. Karena tak memiliki kendaraan aku dan bapak berjalan kaki untuk bisa sampai di kebun. Cukup jauh memang tapi hal itu sering kami lakukan dan  sudah terbiasa bagiku dan bapak. Karena masih teramat pagi berjalan kaki terasa menenangkan.

Akhirnya tiba di kebun, aku dan bapak bergegas memetik kopi. Keranjangpun sudah siap bergantung di dada kami yang akan menjadi wadah untuk menampung kopi yang kami petik.
“Aduh, pak banyak sekali semut.” Baru saja aku mulai memetik segerombolan semut tiba-tiba menyerang badanku. Tampaknya segerombolan semut itu sangat terganggu karena aku mengusik pohon yang menjadi sarangnya.                                                                                                    
“Hati-hati nduk, pilih pohon yang tidak ada semutnya saja.” Bapak menghampiriku dan memastikan bahwa aku baik-baik saja.              

Disaat-saat seperti ini waktu yang cukup berharga untukku. Ditengah teriknya matahari, udara panas yang memancing tenggorokanku untuk terus menegukkan air.tak mengapa meski begitu ada saja hilir mudir agin yang membuat sejuk.        

Dahlan begitu nama bapak. Seuntai senyum dan kata-kata bijak dan cerita-cerita tentang pengalamannya yang selalu saban hari bisa ku dengar dari mulut bapak. Matanya yang bening dan tajam seolah sikap tegasnya sudah tertanam didalam jiwanya.   
“Susah ya pak berkebun seperti ini, banyak prosesnya belum lagi nanti bapak panggul kopi ini pasti berat pak.” Keluhanku ketika memetik kopi.                                                                              
“Ya, mau gimana nduk. Kalau ndak ngurus kebun kopi kamu ndak bisa sekolah. Biaya kamu sekolah dari kopi ini. Pesanan jahit bapak untuk biaya makan. makanya kamu sekolah yang pinter biar gak kerja dikebun seperti bapakmu ini.” Jawab bapak seraya tangannya aktif meraih tangkai-tangkai kopi.                                                                                                                                          
“Minah mau sekolah SMK saja pak biar tidak sulit cari kerjanya, agar tidak kuliah lagi kan tidak merepotkan bapak.” Jawabku.                                                                                                
“Kalau bapak tidak punya hutang dengan paklek mu pasti bapak menyekolahkanmu hingga perguruan tinggi, agar kamu bisa jadi guru ndak kerja dikebun seperti bapak.” Ada sedikit keinginan bapak agar aku tidak bergelut dengan kopi-kopi ini lagi.                                                           
“Minah akan belajar lebih giat lagi pak, siapa tahu ada program beasiswa kuliah atau ada orang yang mau membiayai minah kuliah. Hehe,,.”                                                                                          
“Ya, bisa saja nduk. Tidak ada yang tidak mungkin kalau kita berusaha dan berdoa asal dalam niat dan keyakinan yang baik pasti diberi jalan oleh Allah.”             
Ini yang membuatku selalu nyaman ketika bersama bapak, selalu saja mendukung keinginanku. Kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu saja bermakna dan membangkitkan semangatku dalam menggapai cita-cita.                 
            ***
September 2011. Baru saja kuterima ijazah sekolah menengah pertama. Ini adalah terakhir aku belajar di desaku. Setelah menerima ijazah, aku harus segera mendaftarkan di sekolah menengah kejuruan, dan itu pertanda aku sudah dewasa. Aku pun harus sekolah di luar desa, dan tentunya harus jauh dari keluarga. Tentunya akan ku tinggalkan rutinitasku bersama bapak, membantu bapak memetik kopi, membantu ibu memasak di dapur, menjaga adik dan rutinitas lainnya yang biasa aku kerjakan. Mulai sekarang aku akan fokus untuk belajar dan belajar.
Malam merangkak begitu perlahan, menyiksa kenangan dan kebiasaan yang sering ku lakukan di desa. Malam ini adalah malam terakhir aku di rumah, karena esok pagi aku akan berangkat mendaftar sekolah yang cukup jauh dari desaku. Tak dapat ku pungkiri rasa berat meninggalkan ibu, bapak dan adik memang cukup menyiksa. Bagaimanapun, aku harus pergi dan meraih cita-citaku. Menjadi siswa berprestasi melanjutkan ke perguruan tinggi seperti yang bapak inginkan.
Inilah waktu yang di tunggu, berpisah dan mulai memasuki halaman baru untuk menapaki kehidupan. 

Dengan suara pelan, aku berkata,”Aku akan belajar dengan sungguh-sungguh pak, bu... Belum lagi rampung kalimatku, Bapak sudah duduk bersila dan menekur di depanku, tenggelam dalam tatapan pilu bapak melepaskan ku dari sisinya. Serta merta keheningan menyelimuti kami.           

Bapak terkesima menatapku, lalu duduk bersila di hadapanku. “Belajar yang rajin nduk, gapai apa yang menjadi cita-citamu. Jadikan  membaca dan menulis sebagai hobimu, jadikan membaca dan menulis adalah obat segala kegelisahan yang menyelimuti hatimu. Kelak kamu akan memetik hasil kegemaranmu itu.”                                                                                                                     
“Iya, pak. Aku akan ingat pesan bapak.” Jawabku dengan suara terisak tangis.                         
Seketika rasa kesedihan menusuk-nusuk hatiku. Tidak, aku tidak akan mempermainkan lelaki hebat yang kukagumi kesetiaannya ini. Aku akan melakukan yang terbaik untuk membuat bapak bangga.  Belajar dengan sungguh-sungguh, berprestasi dan impian terbesarku melanjutkan sekolah keperguruan tinggi tanpa membebani bapak. Apakah aku menikmati kesunyian ini? Tidak, aku merasa belum bisa membanggakan apa-apa untuk bapak. Malah, mungkin aku telah menjadi anak yang banyak membebani bapak. Air mataku menetes, sungguh. Aku sedang berpikir bagaimana kelak aku bisa membuat bapak bangga atas prestasiku. Rasa lelah bapak dalam mengais rezeki disebuah kebun kopi akan kah bisa terbayar dengan hasil prestasiku? Tapi, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk bapak.       
            ***
Dua tahun aku jauh dari keluarga, menginjak kelas tiga aku dikabarkan bapak jatuh sakit. Aku tidak bisa jika harus jauh dari bapak jika keadaan bapak sakit. Akupun memutuskan untuk pulang dan pergi ke sekolah dari rumah meskipun cukup jauh kebetulan  saja anak paklek ku yang baru masuk SMK mendaftarkan diri di sekolahku, dan ia pun memiliki kendaraan untuk bisa digunakan ke sekolah jadi aku bisa pergi bersamanya.

Disuatu sore menjelang ashar, terdengar suara rintihan lembut dari pojok kamar Bapak. Aku yang saat itu sedang membaca buku di kamar mencoba menghiraukan suara itu. Suara itu kembali terdengar aku tak mungkin akan tetap diam menghiraukan suara itu. Aku bergegas melompat dari kamar tidurku melangkah ke kamar Bapak. Suara rintihan Bapak semakin terdengar.  

Aku duduk disamping Bapak yang sedang merintih sakit itu.
“Bapak ndak kuat nduk”.. dengan suara lirih tanpa kekuatan.
Aku diam,namun meneteskan airmata.                                                                                             
nduk...nduk.. bapak ingin menyerah saja nduk!”                                                                                
Aku tetap diam namun menangis dan kedua tanganku memijat kaki Bapak.                              
Bukan maksudku menghiraukan rintihan Bapak. Tapi bagaimana aku sanggup menjawab? Bagaimana bisa aku menjawab rintihan Bapak.                                                                                                  “nduk....”! kata itu terucap lagi.
Aku hanya diam, membiarkan airmata terus menitik. Tidak berapa lama kata rintihan Bapak terdengar semakin keras. Seakan-akan Bapak bosan dengan rasa sakitnya.

Tuhan....
Airmata ku menderas lagi. Satu kata yang membuatku tak ingin menerima jika kata itu benar menjadi nyata.
“Bapak sudah bosan hidup menanggung sakit..!”
Setelah menderita sakit sekian lama dan melakukan segala cara untuk menyembuhkan rasa sakitnya namun tak kunjung sembuh. Dari cara Tradisional dan modern semua telah bapak lakukan, namun sejauh ini belum ada kesembuhan. Nampaknya memang sedikit harapan untuk bisa sembuh. Begitu kata orang,benarkah?
Apakah tidak ada waktu lagi untuk Bapak berusaha melawan rasa sakitnya. Jika ucapan Bapak kali ini memang benar adanya, sanggupkah aku menerima semua ini.

Tapi kenapa sekarang?                                                                                                           
Kenapa terjadi saat aku akan menghadapi ujian sekolah. Saat aku teramat sangat ingin melanjutkan kuliah setelah lulus nanti. Menjadi guru adalah Cita-cita ku sejak aku mengenal sosok guru. Tapi aku pikir takdir dan ujian barangkali tidak memilih tempat apalagi waktu. Bukankah ujian itu Allah berikan pada tiap-tiap hamba-Nya.

Membayangkan aku, adik-adikku dan ibu terbang tanpa sayap seorang bapak. Membayangkan cinta yang lepas dari genggaman?
Orang tercinta yang selama bertahun-tahun selalu disisi, sejak terlahir hingga dewasa yang selalu melindungi memberi kasih dan sayangnya, kemudian Allah meminta untuk kembali ke haribaan-Nya. Siapkah?
Pemikiran demikian membuatku takut kehilangan, khawatir tidak ikhlas menerima. Ragu akan kemandirian, sanggupkah Ibuku menerima jika memang kenyataannya harus kehilangan. Sanggupkah Ibuku terbang dengan satu sayap? Sanggupkah adik-adikku melalui hari tanpa sosok seorang Bapak?
Tangis airmataku, Ibu dan Adik-Adikku menambah suasana mengharukan atas satu ucapan bapak yang membuat batin kami seperti dikoyak melihat semua tragedi  yang membayangkan kehilangan bapak.
Tak lama suasana mulai tenang, isak tangis mulai berhenti, namun Bapak mengulang kata itu kembali.
“Bapak tidak mau lagi hidup!!”                                                                                                   
Aku mengelak dengan keras atas ucapan bapak.                                                                               “Sudahlah Pak jangan berbicara seperti itu, tetap mengatakan hal yang baik kami semua ingin Bapak sembuh, tapi kenapa Bapak harus patah semangat seperti itu, ayolah Pak tidak usah berburuk sangka atas takdir Allah, tetaplah berkeyakinan bahwa Bapak akan sembuh, bukankah Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.      

Aku berdoa dalam hati,                                                                                                               “Ya Allah, bukannya aku tidak menerima takdir-Mu, aku takut tak ada yang mencari nafkah karna kehilangan Bapak. Aku terlalu sulit menerima jika ini benar menjadi nyata. Suasana pun kembali seperti semula, sepertinya rasa sakit Bapak sedikit reda. Hembusan nafasnya mulai teratur, prasaannya mulai membaik. Kami pun menadahkan tangan keatas seraya mengucap syukur Alhamdulillah.

Setelah keadaan kembali normal aku mencoba berbicara pada ibu.                                           
“Apakah tidak sebaiknya kita bawa bapak ke rumah sakit saja bu?                                           
“Sudah nduk, bapak mu sudah dirawat beberapa hari tapi ndak ada perubahan. Sebenarnya sudah lama bapak menderita sakit hanya saja bapak melarang ibu memberitahumu. Awalnya bapak hanya kelelahan karena terlalu banyak memanggul kopi untuk dibawa pulang. Ibu tidak ikut bapakmu ke kebun karena ibu dirumah juga menunggu kopi-kopi yang sedang dijemur. Ditambah lagi paklekmu meminta hutang bapak musim ini langsung di lunasi semua. Bapakmu langsung memikirkan beban itu. Kamu tau nduk rumah yang menjadi tempat tinggal kita selama ini. Tanah ini milik saudara buklekmu dulu bapak dan ibu terbelit dalam kemiskinan karena adik-adik bapakmu banyak, bapakmu lebih mementingkan kebutuhan mereka dan kini saudara buklekmu meminta untuk meninggalkan rumah ini atau melunasi tanahnya. Untung saja ada yang berkenan membantu membayarkannya dulu jadi kita tidak perlu pindah rumah. Hutangpun semakin menumpuk ya itu yang jadi beban bapakmu. Bapak banting tulang untuk membiayaimu sekolah, bagaimana caranya setiap nduk butuh uang harus bapak cari.” Ibu menjelaskan secara jelas padaku.

Aku mendengarkan dengan hikmat, airmatapun menetes. Aku sudah menjadi salah satu beban berat yang harus bapak tanggung. Aku berjanji setelah menyelesaikan sekolahku yang tinggal beberapa bulan ini akan belajar dengan sungguh-sungguh. Alhasil aku mendapat tawaran beasiswa kuliah dengan catatan dengan mengajar di yayasan milik guruku. Namun setelah ku pikir aku tidak bisa menerima tawaran kuliah itu meskipun itu adalah cita-cita terbesarku.
Jika aku menerima tawaran kuliah itu, bagaimana dengan hutang-hutang bapakku. Aku harus bekerja untuk melunasi hutang-hutang bapak, belum lagi adik-adikku yang masih duduk dibangku sekolah.
***
Mei 2014 aku menerima ijazah sekolah menengah kejuruan. Petanda aku selesai belajar dan mengenyam pendidikan. Jika siswa lain sibuk ingin mendaftar ke Universitas mana lain halnya denganku. Kuliah? Lupakan. Aku sibuk akan bekerja kemana. Ku tatap ijazah yang ku genggam ini, tidak terlalu buruk aku tercatat beberapa prestasi setiap tahunnya dari ajaran tahun pertama hingga kini aku selalu masuk tiga besar di kelas. Sudah sering ku beritahu bapak setiap kali menerima raport tapi menurut bapak sepertinya bukan prestasi yang luar biasa.

Ku tunjukkan ijazahku dan piagam-piagam penghargaanku. Bapak membacanya penuh hikmat. Lalu, menatap ku. Ku coba menatap mata Bapak dengan penuh kesedihan. Mendadak mataku nanar. Masya Allah setelah mendengar penjelasan Bapak diwaktu muda hingga saat ini harus menghidupi keluarga dan Adik-Adiknya yang tak sedikit jumlahnya setelah ditinggal Kakek. Pantas saja tubuh Bapak saat ini sudah tak mampu bekerja karna sudah terlalu lelah ia menghadapi dunia yang keras ini.

Ku lihat wajah Ibu terlihat menahan tangis. Dimatanya ada rasa kasihan yang mendalam terhadap diriku. Batinku kembali terguncang mendengar masalalu kehidupan Bapak. Seperti itukah masalalu Bapak Ibuku. Sehebat itukah mereka mampu melewati kehidupan ini. Menjadi salah satu alasan juga kenapa bapak tak memiliki satu jenggal kebun kopi, disaat warga lain memiliki berhektare-hektare kebun kopi.

Kata-kata Bapak berikutnya bagai telaga sejuk yang mengaliri relung-relung hatiku.       “maafkan Bapak jika selama ini keras padamu nduk! Bapak yang seolah-olah tak pernah bangga atas prestasi-prestasi yang pernah kau dapatkan selama sekolah! Tapi itu karena bapak tak ingin kau berbesar hati, mungkin kau berpikir seharusnya kau diperlakukan manja karena prestasi-prestasi yang mampu kau capai. Bapak tak ingin kau manja. Itu sebabnya Bapak tak pernah memujimu. Kau harus punya hati sekeras baja untuk menapaki hidup. Bapak ingin anak sulung Bapak ini menjadi sosok yang berbeda. 

Meskipun seorang wanita namun harus berani dan gagah mampu seperti elang terbang tinggi mengepakkan lebar sayap nya”.

Menjadi seekor elang... itukah yang diinginkan Bapakku. Menjadi wanita tangguh, menjadi seseorang. Menjadi orang dalam arti sebenarnya. Punya karakter dan prinsip yang berbeda. Siap mengarungi kerasnya hidup.
***
Kesembuhan bapak menjadi hal terbesar yang patut disyukuri, meskipun bapak tidak bisa bekerja seperti dulu lagi, melihat senyumnya saja sudah cukup berharga bagiku. Sekarang giliranku yang menunjukan baktiku untuk melunasi hutang dan menyekolahkan adik-adikku. Meskipun aku tahu apapun yang ku lakukan tidak akan pernah membayar jasa bapak dan ibu.

Lagi-lagi aku harus jauh meninggalkan bapak ibu, mencari pekerjaan yang lebih baik di kota. Lautan luas menjadi batas kerinduan yang selalu menyelimuti jiwa. Melewati hari-hari baru tanpa orang-orang yang sejak dulu tidak pernah jauh dariku. 

Tak mengapa sepulang aku bekerja, aku selalu mengobati kegelisaan dan rinduku dengan menikmati secangkir kopi dalam varian menu berbeda adalah pengalaman seru yang selalu ku nikmati di kedai kopi.

Jenis minuman kopi yang biasanya aku pesan saat nongkrong di coffee shop? Espresso, Americano, flat white, cappuccino atau café latte? Minuman-minuman ini begitu familiar di telinga dan sudah dinikmati kebanyakan peminum kopi di Indonesia.

Yang paling aku suka flat white, flat white sungguh  berbeda dengan café latte dan cappuccino meski menggunakan bahan baku yang sama: kopi dan susu. Flat white menggunakan rasio susu lebih banyak dari café latte dan disajikan hampir tanpa foam. Bagian atasnya terdapat krema kopi dan setitik foam. Dari segi rasa Flat white lebih kuat dari café latte dan lebih lembut dari cappuccino.

Satu cangkir yang ku nikmati begitu menyembuhkan sejenak rasa rinduku. Kenangannya yang  pahit seakan larut dalam manisnya Flat white yang ku teguk. Mungkin saja kopi yang ku teguk ini adalah salah satu butir biji kopi yang dulu bapak petik. Meskipun untuk menjadikan kopi senikmat ini butuh perjuangan dan proses yang panjang. Mungkin semua orang bisa menikmati kopi, tapi tidak semua orang bisa merasakan lelahnya memetik dan mengelola kopi menjadi minumam yang begitu nikmat.
---------
Nama               : Fitriana lestari
Alamat             : Jl. Kramat Oyar, villa mutiara setu
                           Blok C No 9, Cipayung Jakarta Timur.
No HP              : 085717318729
No KTP            : 1803125202960004
Facebook          : Dfitri Lestari
E-MAIL           : Fitrianalestari28@gmail.com
FITRIANA LESTARI, Seorang yang gemar menulis dan ingin sekali terjun langsung di dunia tulis menulis. Dilahirkan di Lampung, 12 Februari 1996. Saat ini ia bekerja di Jakarta timur.



*Toki No Shizuku * Collaboration Alan Sahlan & Fitriana Lestari

                                                                                                                                                                                                                    ..............................
                                        Collaboration of young writers



Rasanya berat Ghea menghembuskan nafas ini. Berat di dada terasa menyesakkan. Sekelebat bayang, kembali mengusik kedamaian hati. Anan? Kenapa bayangmu selalu menghantui? Setelah setahun lamanya Ghea mengubur kenangan menyakitkan itu. Kenangan dimana saat itu kita masih saling memendam perasaan.  Dan sekarang luka itu kembali terkuak.                                                                                                                                
Terdiam sejenak dalam renungan. Kala bayang wajahnya datang menyapa. Waktupun berputar kebelakang. Sebut saja, segala sesuatu yang tertinggal itu bernama kenangan. Ghea akan menoleh ke belakang sesaat dan menemukannya masih di tempat yang sama. Ingatan yang begitu jelas, surat permintaan maaf darinya  yang ia genggam saat ini. Ia temukan dalam selipan buku deary miliknya.                                                                                                           
Disaat Anan mengungkapkan perasaannya pada Ghea namun Anan harus pergi meninggalkan Ghea. Ia ingin saat itu juga mereka melangkah dalam bahtera penikahan. Namun waktu berkata lain, Anan harus melanjutkan beasiswa sebagai Master research di bidang clinical laboratory investigation di Jepang. Ghea tahu itu cita-cita terbesar Anan, mana mungkin ia bisa mencegahnya, dengan rela ia ikhlaskan kepergiannya. Baiklah Ghea berjanji pada dirinya bahwa ia disini akan menantinya hingga Anan kembali, ia pastikan akan masih tetap sendiri disini. Tidak perlu ada ikatan apa-apa diantara mereka. Mereka hanya perlu mencintai untuk mengikhlaskan.                                                                                                          
Sepucuk surat cinta dan pemintaan maaf mengingatkan Ghea pada satu  tahun silam, pertama kalinya Anan mengungkapkan perasaan padanya. Ghea benar-benar bahagia pada saat itu, ia yang selama ini hanya mengagumi Anan dalam diam, menyapanya lewat senyuman dan menjaganya lewat doa akhirnya mengetahui apa Ghea rasakan sama seperti yang Anan rasakan.                                                                                                               
Dari kejauhan sudah terlihat Anan duduk tampak sedang menunggu Ghea disebuah bangku panjang di Taman belakang kampus. Ia tampak rapi, dengan baju kemeja merah sepadan dengan celana hitam yang ia kenakan. Dengan pakaian seperti itu Anan terlihat pria yang sangat rapi. Sedangkan Ghea tampak Anggun dengan baju gamis merah marun, sepadan dengan  jilbab lebar panjang menjulur menutupi auratnya. Ghea ingat betul saat itu sahabatnya anisa memaksanya untuk bertemu dengan Anan, saat itu ia tidak tahu bahwa itu permintaan dari Anan. 

Ghea tidak bisa menghindar karena Anisa terus memaksanya, menarik tangannya hingga ia tepat berada didepan Anan. “Ayo ghea, cepatlah..” dengan erat Anisa menarik tangan. “Sebenarnya ada apa ini Nisa, kenapa kamu memaksaku seperti ini.” Ia mencoba melepaskan genggaman tangan Anisa. 

Namun Ghea tiba dihadapan Anan yang sedang duduk di bangku panjang. 
“Assalamualaikum Anan.” Ucap Anisa dengan nada sedikit kelelahan.                              
“Wa’alaikumsalam Nisa, Ghea. Maaf Ghea ini aku yang meminta Nisa untuk menemuiku disini. Aku hanya ingin memberimu ini.” Dengan menyodorkan sepucuk kertas yang terbalut rapi dengan amplop.  “Apa ini? Jawab Ghea dengan penuh tanya.                                                                            
“Terkadang isi hati tak mampu diungkap melalui lisan, tercurahkan dalam tulisan kerena tulisan adalah jembatan penghubung antara dua insan. Di sepucuk kertas ini ada goresan hati yang terselipkan. Sebuah rasa untukmu Ghea.” Anan memberikan amplop putih kepada Ghea.                                                                                                                                        

Ghea dan Nisapun pergi meninggalkan Anan dan sepucuk surat yang ia genggam.                       

***
                                                                                                                                          
Setiap kali melihat sepuncuk surat darinya yang tergeletak diatas meja kamar Ghea, hatinya semakin teriris sakit. Sore ini, hujan dengan derasnya membasahi bumi, ia baru saja terbuai dalam masalalu. Ghea  memeluk tubuhnya sekuat hati. Butir-butiran manik menetes laju di atas pipi saat memikirkan rasa rindu ini. Ujian apakah ini? Ia menangis sepuas hati. Siapkah ia menantinya kembali, akankah Anan kembali sesuai janji. Sungguh Ghea ingin tahu bagaimana keadaannya disana, ingin tahu cerita-cerita tentang negeri sakura yang indah itu. Ia mencoba memeriksa emailnya yang beberapa hari belakangan ini Ghea abaikan. Ia lihat ada beberapa email masuk dari Anan.                                                                                            

***                                                                                                                  

Assalamualaikum Ghea, bagimana dengar kabarmu disana. Aku harap kau baik-baik saja. Aku ingin bercerita tentang suasana malam ini, yang hiruk pikuknya membuatku hampir lupa aku sedang di sebuh kota kecil. Udara malam yang sejuk membuatku merasa senang akan keputusan dadakannya homestay disini. Meskipun rasa berat hati untuk menjauh darimu. Ditengah2 musim panas seperti ini pun, udaranya sejuk dan menyegarkan. Aku bisa membanyangkan kemarin sedang kegerahan di Tokyo, kemarin mengeluh suhu di Tokyo mencapai 39 derajat.                                                                                                              
Lentera kertas berwarna warni bergelantungan menerangi malam dengan pendar cahayanya yang temaram. Angin mempermainkanku, membuat lentera2 itu berayun kegirangan. Masing2 mencoba mengalahkan gelapnya malam walau hanya dengan bohlamnya yang sebesar kelingking. Keempat sisi lapangan dipenuhi dengan stand nonpermanen yang menjual penganan maupun menawarkan permainan. Para pengunjung mengenakan yukata, kimono musim panas yang ringan dan berwarna warni cerah. Seakan pemakaiannya ingin mengalahkan warna lampion San kembang api sekaligus. Beberapa pemuda juga mengenakan yukata untuk pria. Bukannya tampak kuno, pakaian tradisional itu malah membuat mereka tampak seperti samurai modern. Rambut mereka kebanyakan dicat, warna emas dan coklat yg membosankan. Pebampilan mereka tidak kalah dari gadis2 yang datang.                                                                                                                          
Aku menduga mereka adalah pemuda yang tinggal di kota dan sedang pulang kampung. Aku jadi teringat akan kampungku sendiri, dan teringat tentang hadirmu walau aku harus memendam rasaku dahulu. sebulan sekali selalu saja ada hajatan, entah itu khitanan, nikahan, atau kelulusan. Kalau sudah begitu semua gadis desa akan keluar dengan pakaian terbaik mereka dengan sanggul dan kepang yg terjuntai, siap menjerat hati lawan jenisnya. Seindah apapapun suasana di negeri sakura ini, keindahan itu tak berarti apa-apa tanpa hadirmu Ghea.                                                                                                                         
Aku tahu, banyak diluar sana hati yang mungkin bisa saja menjadi pilihan lain. Hati yang bersedia menemani sepiku. Yang bersedia bermalam larut bersamaku.Yang bersedia berbagi segala yang ia punya padaku. Namun, aku telah memilihmu. Aku memilihmu karena aku percaya. Rasa tidak pernah salah dalam mengeja. Meski rasa tidak selalu benar dalam memperhitungkan luka. Tidak mengapa, bagiku memilihmu selalu mampu memulihkan. Kau obat atas segala nyeri disudut hatiku. Walau kadang tidak jarang kau juga sebab rindu memagut sepi.                                                                                                               
Rimbun bunga sakura di atas kepala ku, menyejukkan udara yang sudah sarat khas musim SAKURA. Hatiku berdebar-debar saat membayangkan hadirmu disini, bersamaku menikmati indahnya bunga sakura. Aku tak mungkin salah mengartikan tanda-tandanya. Kaulah yang kuinginkan membisikkan kata paling Indah di telingaku; Aishiteru Ghea.               

***                                                                                                                                          
Ghea tergugu membaca kiriman dari Anan, ia menangis dalam senyap. Rasa rindu dibalut dalam kesabaran. Tak tahu pasti sampai kapan ia akan menanti, namun kepastian untuk terus menantinya akan selalu Ghea jaga. Disaat ku sedang mencoba menyatukan rindu yang entah bagaimana caranya untuk menyatukan, terdengar ketukan pintu dari luar kamarku. Terdengar suara ibu memanggilku.                                                                                  

“Ghea, sedang apa kamu nak? Ayo keluar ada tamu yang ingin bertemu denganmu, nak.” Ucap ibu dengan terus mengetuk pintu kamar Ghea.                                                              
“Iya, sebentar Bu. Ghea pasti keluar.” Jawab lirih Ghea sambil mengusap airmatanya.     “Ada siapa bu, teman Ghea?” tanya Ghea.                                                               
“Teman Ayahmu, ayo Ibu dan Ayah akan memberimu kejutan. Kamu menangis nak?” tanya ibu melihat matanya yang merah sembab.                                                               
“Tidak, bu. Ghea hanya sedang merindukan seseorang saja.” Jawab Ghea lirih.                 “Benarkah, Pria mana yang dirindukan oleh puteri ibu yang cantik ini.” Tanya ibu merayu.                                                                                                                                   
“Lain waktu akan ku ceritakan pada ibu.” Jawab Ghea karena akan tiba di ruang tamu. Nampak jauh sudah terdengar obrolan-obrolan yang sedikit ramai, setibanya terlihat ada seorang pemuda yang berkemeja putih duduk dengan tenang. Dan nampak orangtuanya ikut mendampingi terlihat sudah akrab sekali dengan Ayah.                                                           
“Nah, ini puteri Ayah baru keluar. Mari nak, Ayah kenalkan pada putera teman Ayah namanya Hasan. Dia baru saja lulus di Universitas Islam di Bandung. Dia juga anaknya baik dan shalih tentunya pantas jadi imammu kelak.” Tiba-tiba Ayah menyapan Ghea dan segera memperkenalkan pemuda yang duduk tepat didepannya itu.                                                        

***                                                                                                                                          

Allah... Ujian apa ini, pemuda itu datang ingin megajaknya ta’aruf. Pemuda yang shalih dan tak diragukan lagi kebaikannya. Apa yang harus Ghea lakukan, Anan aku berjanji pada hatiku akan menantimu. Tapi bagaimana dengan pilihan kedua orangtuanya tidak ada alasan yang tepat untuk  menolak pilihannya.  Ghea ingat betul nasehat Guru pesantrennya ia menangis dalam senyap saat menceritakan semuanya tentang Anan, tentang pemuda yang Ayah pilih.                                                                                                                                         
“Alasan kamu menolak itu apa si Ghea, emang seberapa baik calon pilihan kamu? Hafalannya berapa jus? kalau alasan kamu menolak masih jauh dari kata syar’i, lebih baik kamu kembali pada pilihan Ayah kamu. Pilihan orangtua kamu.” Nasehatnya dengan tegas.

***


Tidak ada alasan untuknya menolak lelaki shalih itu, ia harus memberi tahu anan perihal ini. Ghea kirimkan e-mail pada Anan. “Assalamualaikum Anan, kau tahu Anan, aku ini putri Ayahku, aku ini miliknya. Bagaimana mungkin aku bisa memilih calon imam tanpa restu dari Ayahku. Aku akan memilih apa yang Ayah pilih, pria yang tak ku kenal sekalipun jika itu yang menurutnya mampu membimbingku aku akan mengatakan YA. Aku tahu cinta itu bukan dicari, tapi ditumbuhkan. Maafkan aku Anan, yang tak setia dengan janji hatiku. Hasan memang datang tidak lebih lama dari kehadiranmu, namun keinginannya untuk menikahiku mengalahkan janjiku kepadamu. Aku tak tahu pasti kapan hari pernikahan itu tiba, namun Hasan sudah datang menemui Ayahku, aku tak tahu pertemuan apa itu yang pasti aku akan memilih Hasan. Sehebat apapun ku pertahankan takkan pernah bisa ku lawan segala ketetapan yang Tuhan tuliskan. Ku sadar ini jawaban yang Tuhan berikan, dengan pasrah engkau ku ikhlaskan. Tak mampu lagi aku berkata, selain kata MAAF. Semoga kau akan menemukan yang lebih baik dariku. Percayalah Anan, rencana indahNya lebih indah dari yang kita rencanakan.                                                                                                                           
Anan tersontak kaget membaca kiriman dari Ghea, tubuhnya lemas, jatungnya berdetak kencang ingin menghentikan waktu dan merubah takdirNya. Mana mungkin Anan mampu merelakan Ghea, selama ini Anan telah merangkai mimpi masa depan untuk bersama Ghea. Hari-hari terasa gelap bagi Anan, Anan tak mampu untuk terus bertahan di Negeri sakura ini. Anan memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan menemui Ghea.                                   

***                                                                                                                              

Disisi lain, Ghea sedang mempersiapkan hari pernikahannya bersama Hasan pria pilihan orangtuanya. Dua hari lagi pernikahan itu akan dilaksanakan, sedangkan Anan sedang dalam perjalanan ke Indonesia. Tepat dihari pernikahan Ghea, pagi itu Anan tiba dibandara dan melaju cepat menuju rumah kediaman Ghea. Anan sangat berharap dapat menghentikan pernikahan itu. Gerak laju kendaraannya tak dapat lagi dihentikan, dia membanting stirnya begitu keras. Sekeras keinginannya untuk hidup bersama Ghea. Tinggal beberapa menit lagi Anan akan tiba dirumah Ghea, begitupun Ghea yang tinggal menghitung menit akan melaksanakan ijab kabul.                                                                                                      
Ketika mobil Anan melaju dikecepatan yang tinggi tepat didepan rumah Ghea Anan menabrak mobil yang akan melintas berlawan arah dengan mobil Anan. Anan mengalami kecelakaan pendarahan hebat dikepalanya, namun Anan masih bisa menghirup aroma nafas Ghea. Dalam keadaan tak berdaya Anan berjalan tertatih-tatih menghampiri Ghea. Saat berjalan memasuki rumah ghea orang-orang tersontak diam melihat Anan yang begitu tak berdaya untuk berjalan. Darah-darahpun seakan melukis kisah tragis hatinya dilantai. Tepat didepan pintu Anan mendengar kata sah dari penghulu dan para hadirin yang hadir. Di detik itu juga Ghea melihat Anan dan kemudian tubuh Anan jatuh terbaring ke lantai Ghea dengan cepat menghampiri Anan, namun sayang ketika Ghea menggenggam tangan Anan, Ghea tak merasakan desak nafas Anan.
-----END

*Antologi cerpen tema katastrofa diselenggarakan oleh Pena House*

Kera Of The Human

                                                                       

            Kali ini hujan kembali datang membawa ribuan tetes air dan menyemainya diatas tanah, jatuh kemanapun ia mau bergerak dan mengalir. Negeri yang padat, sempit banyak penghuni yang tinggal di negeri itu. Tidak terlihat ada istana berdiri disana. Sebut saja negeri itu bernama gencikil.                                                 
Bukan pertama kalinya memang hujan turun, namun untuk pertama kalinya si kera menantang air hujan yang terus turun. Bukan tak mau berteduh, tapi memang tak ada tempat berteduh yang bisa ia singgahi. Negeri ini adalah negeri asing baginya. Setelah berkelana menyusuri setiap jalan setapak ia terdampar di negeri yang cukup ramai ini. Ia tidak pernah ingin menemukan jalan pulang. Justru ia lebih suka tersesat tanpa arah dan ia rasa tidak penting baginya untuk menemukan jalan pulang. Apa yang harus ia lakukan, kembali untuk pulang? Lalu mengemis kasih sayang dari oragtuanya.                                                                  
***

Suatu ketika tiba-tiba ia disebuah tempat perdagangan, tepat dimana banyak manusia yang berinteraksi menjual dan membeli. Karna ia berjalan dengan memandang disekelilingnya, tidak sengaja ia menginjak sesuatu.                                              
“Aduh..,” terdengar suara kesakitan dari bawah kaki.                                             
“oh, maaf. Aku menginjakmu, siapa kau?” tanya kera.                                            
“tidak apa, aku baik-baik saja aku hanya kantong kresek. Ya kantong kresek yang selalu diinjak bila sudah tidak diperlukan. Namun selalu dibawa kemana-mana ketika masih diperlukan. Bahkan, apabila sudah tidak terpakai aku nyaris dibuang ke kotak sampah.”. Jelas kantong kresek.                                                       
“kenapa kau mau menjadi menjadi kantong kresek? Hidupmu susah seperti itu.”                                “Mau bagaimana lagi, aku tidak pernah menyalahkan takdir. Ini salahku aku seperti ini karena pilihan-pilihan dimasa laluku yang tak pernah mendengar nasehat-nasehat orang disekelilingku. Tak pernah mau melakukan hal baik karena kemalasanku. Itulah kenapa Tuhan memberi balasan seperi ini.” Kantong kresek menjelaskan dengan penuh penyesalan.                                                           
 “ Benarkah ini bukan takdir? Aku selalu menyalahkan takdir. Aku selalu menyalahkan takdir dalam keadaanku seperti ini. Menjadi seekor kera, menjijikan bukan? Selalu dikucilkan bahkan aku tak sedikitpun bisa berguna untuk oranglain.” Ucap kera dengan penuh kekecewaan.                                    
“Tidak seharusnya kau mengatakan seperti itu kera? Tuhan menciptakanmu bukan tanpa alasan.” Ujar kantong kresek.                                               
  “Sudahlah kera, aku tidak akan menyalahkan takdir jika aku dapat bertemu dengan Tuhanku dan Dia menjawab semua pertanyaaku. Pasti aku akan menerima semua yang sudah Dia takdirkan.” Ucap kera seraya pergi.                                                                                      

***

Matahari semakin terik panasnya menusuk hingga kulitnya. Tubuhnya mulai kelelahan ia baru sadar bahwa ia butuh makanan untuk membuat tubuhnya terus kuat dan tidak lemah. Disaat ia sedang menahan lapar dan haus ia menengok kesana kemari mencari apa yang bisa ia makan. Lalu ia tajamkan pandangan pada satu pohon yang berbuah. Pohon itu nampak subur sekali, penuh dengan buah yang segar. Kera pun berlari cepat menghampiri pohon berbuah itu. Ketika kera sedang memanjat pohon tiba-tiba ada suara yang memanggilnya, suaranya besar dan bergemuruh, sama seperti tubuhnya yang besar dan tinggi, terlihat menakutkan sekali.                                                                                                        

“hay bung, apa yang sedang kamu lakukan?” ucap suara besar itu.                                               
“maaf, aku hanya ingin memetik satu buah saja dari pohon ini.” Ucap kera dengan nada ketakutan.                                                                                                          
“seenaknya kau memetik tanamanku, tanpa kau mencari pemilik pohon ini. Aku menanamnya dengan susah payah.” ucap nya.                                                          
“ya, aku tahu. Aku tidak bisa menahan perutku. Sudah beberapa hari aku menemukan makanan.” Jawab kera.                                                                                        
“siapa kau, dari mana asalmu, dan akan pergi kemana kau?” tanya nya.                
“seperti yang kau lihat, aku hanya seekor kera yang kehilangan segalanya, tak memiliki apapun bahkan keyakinan untuk meyakini adanya Tuhan saja aku kehilangan keyakinan itu.” Jawab kera.                                                                          
 “kalau begitu kau ikut saja denganku, kita pergi ke gubuk ku aku sedang menanam benih-benih monster disana. Dan kau bisa bergabung bersama mereka.” Jelasnya.                          

***

Apa, benih-benih monster. Ia menanam benih-benih monster, itu artinya ia adalah monster. Pantas saja tubuhnya tinggi dan besar. Layaknya monster suaranya menggema jika berbicara. Ia sendiri sangat takut saat berhadapan dengannya. Kera merasa bingung apa yang harus ia lakukan, ikut bersama monster itu atau lari dari hadapannya sekarang juga. Namun apa daya, tubuhnya semakin melemah jika ia  harus lari berati ia harus siap mati ditengah jalan. Kera pun memutuskan untuk ikut.                                                                                       

Disepanjang jalan menuju gubuk tempat monster menanam benih monster. Ada cerita apa dibalik monster menanam benih monster. Sungguh kera sangat terkejut setelah tiba di gubuk yang sejak tadi membuatnya penasaran. Ternyata gubuk itu adalah sebuah markas yang cukup luas lengkap dengan kamar yang cukup banyak.                                                                                                         

Dan benih-benih monster itu adalah orang-orang yang ia latih untuk menjadi kuat dan tubuhnya besar dan banyak ditakuti. Orang disekelilingnya menyebut mereka preman. Ya bagaimana tidak mereka dilatih keras untuk menjiwai seorang preman layak monster yang berbadan besar dan menakutkan                      

Lalu, apa peran mereka sebenarnya. Membuat kerusakan, menakuti orang, membunuh orang kah? Terlalu tragis memang peran mereka. Tapi sungguh bukan itu peran mereka. Benih-benih monster itu hanya dilatih untuk kuat tujuannya hanya ingin di hormati bukan ditakuti. Walau sesekali harus menyakiti karena kesombongan mereka yang kuat dan akhirnya melukai. Tapi sungguh monster tidak menginginkan benih-benihnya tubuh menjadi monster yang jahat. Hanya saja terkadang benih-benih monster itu menjadi sosok yang menakutkan jika sudah merasa dirinya kuat.                                                                           

“Apakah tubuhmu sudah tidak lemah? Jika iya ikutlah bergabung bersama mereka. Coba kau lihat, tubuh kecil, nampak hanya ada tulang didalamnya. Berlatih dan makanlah yang banyak untuk memperbaiki postur tubuh yang kurus kecil itu.”  Ucap monster itu dengan mengacungnya jari telunjuknya ke arah para benih monster yang sedang latihan memukul.                                                                   

 “Baik, aku akan bergabung dengan mereka.” Jawab kera sambil melangkah bergabung bersama benih monster di lapangan tepat di dalam markas.                 

Dengan tekun kera mengikuti apa-apa yang diperintahkan monster. Ia berfikir suatu hari nanti tubuhnya yang kurus kecil dan tak berguna ini akan berubah menjadi sosok monster seperti yang ia lihat saat ini. Besar dan menakutkan.
                                                           
***

Setelah kera mengikuti beberapa rangkaian proses pelatihan, ada yang berubah dari seekor kera. Yang dahulu kurus dan lemah berubah menjadi besar dan kuat. Namun baginya perubahannya tidak mempengaruhi identitasnya sebagai kera.                                                                                                                               
Suatu hari monster meminta kera untuk berkelana disekitar negeri gencikil. Apapun boleh ia lakukan, menakuti orang-orang atau malah membantu mereka.                                                                                                                           
“Kera, sudah saatnya kau pergi. Keluarlah dari gubuk ini, cari apa yang ingin kau cari. Mencari Tuhanmu kah yang selama ini sedang kau cari. Tak perlu kau melangkah jauh dan mencari ujung dunia ini, cukup kau amati warga di negeri genciki ini. Kelak kau akan menemukan Tuhanmu.” Ucap monster menasehati.                                                                                                                         “Baik, Tuan. Aku akan pergi, dan aku akan mencari Tuhanku. Benarkah aku boleh melakukan apapun yang ku inginkan?” tanya kera.                                               
  “Tentu saja, pergilah.” Seru Tuan monster.                                                             

Kera pun beranjak pergi dari gubuk Tuan monster. Menyusuri jalan setapak yang melintas entah kemana. Hingga ia tiba di tempat yang dahulu pernah ia singgahi dan bertemu kantong kresek. Dari kejauhan kera melihat sosok kantong kresek tergeletak dijalanan dan di injak-injak oleh yang melintas di atasnya. Kerapun pun menghampirinya.                                                                                    
            ***

Tidak terbayangkan oleh kera bahwa benih-benih monster akan melakukan hal sekejam itu. Tidak membunuh memang namun menyakiti orang yang lemah hingga akhirnya harus mati karna tak berdaya melawan rasa sakit itu.                              
Suatu ketika kera mengamati salah satu benih monster yang sedang mencoba ingin mengganggu seorang putri cantik yang melintas. Karna kera khawatir putri itu akan di lukai maka kera mengamati setiap gerak gerik benih monster. Benar apa yang di pikiran kera, benih-benih monster itu mencoba melukai putri cantik itu karena keinginannya tidak di penuhi. Kera mencoba mendekat dan mencegah apa yang akn dilakukan benih-benih monster.                                 

“Apa yang akan kau lakukan, kau kuat bukan berarti kau bebas untuk menyakiti orang disekelilingmu. Apa kau senang jika melihat orang lain tersakiti. Bagaimana jika kau ada di posisi mereka yang kau sakiti? Cobalah kau berpikir sejenak tentang apa yg sudah kau lakukan pada mereka.” Ucap kera dengan amarah yag meluap-luap.                                                                                       

“Apa-apaan kau ini kera, sudahlah aku tak ingin berdebat denganmu. Baik aku akan pergi.” Benih-benih monster itu nampak menyesal setelah apa yang ia lakukan. Dan segera pergi meninggalkannya.                                                                    

 “kau baik-baik saja putri?” tanya kera.                                                                   
“ya, aku baik-baik saja namun aku sungguh takut jika nanti bertemu mereka lagi.” Dengan nada ketakutan.                                                                                 
“Baik, akan saya antar putri ke mana putri akan pergi.” Ujar kera.                             
                    
    ***

Akhirnya kera menghantar putri cantik itu ke rumahnya. Setiba di rumah ia bertemu dengan Ayah sang puteri.                                                                                          
“Siapa pemuda ini nak?” tanya sang Ayah.                                                              
“ Dia yang menolongku ketika aku akan disakiti oleh benih-benih monster itu yah.”  jawab sang puteri.                                                                                                     
“Siapa kau? Darimana asalmu?” tanya ayah sang puteri kepada kera.                
“Aku hanya seekor kera Tuan, ya seekor kera yang banyak kehilangan tentang arti kehidupan. Konon aku adalah manusia biasa, dahulu masa kecilku ku lakukan untuk bermalas-malasan. Membuat onar kesana kemari, mencuri uang ibuku. Tidak sedikitpun aku melakukan perintah ibu. Bahkan mendengar nasehatnya saja aku merasa muak. Hingga akhirnya habis sudah kesabaran ibuku melihat tingkahku.                                                                                                      

Hingga akhirnya ibu memanggilku kera dan mengusirku untuk pergi jauh darinya. Asalku dari laut selatan di ujung samudera sana tuan. Aku berkelana

menyusuri setiap jalan mencari apa yang selama ini tidak aku dapatkan. Mencari tentang arti takdir Tuhan, pantaskah aku memiliki Tuhan sedangkan aku hanyalah seekor kera. Semakin hari aku semakin merasa diriku ini adalah seekor kera. Hingga akhirnya aku bertemu Tuan monster yang melatihku untuk menjadi sosok yang ditakuti. Ku pikir dengan aku ikut pelatihan itu aku akan berubah menjadi monster. Namun ternyata tidak, seekor kera Tetap saja kera. Mungkin ibu benar-benar mengutukku dan tidak ingin aku menjadi manusia.                                            

 “Jika kau ingin menjadi manusia, temuilah ibumu sujudlah di kaki ibu. Ucapkan maaf atas kesalahanmu.” Ucap Ayah puteri cantik.                                     
“Benarkah? Aku dapat berubah menjadi manusia?” tanya kera.                                
 “sungguh, pergilah wahai pemuda. Temui ibumu, jika kau berhasil menjadi manusia kembalilah kemari. Bawa Ibu Bapak serta keluargamu, dan nikahi puteriku.” Pinta Ayah puteri.                                                                                     
                        ***

Dan konon kera kembali pulang ke laut selatan di ujung samudera, ia menyusuri jalan demi jalan yang pernah ia lewati. Meskipun jalan yang sangat jauh pernah ia lewati namun masih teringat jelas dalam benaknya kemana langkah kakinya pernah melangkah. Kera tak perlu pergi jauh untuk mencari Tuhannya. Karna puteri cantik dan Ayah puteri cantik itu telah mengajarkan arti kehidupan yang Tuhan berikan.                                                                                                  

Tidak perlu berjalan sejauh mungkin dan mencari ujung dunia ini, karena sampai kapan pun dan sejauh apapun ia melangkah tidak akan ia temukan ujung dari dunia. Dan Tuhan tidak berada di ujung dunia tapi Tuhan ada di setiap sudut dunia. Dimana pun kita berada, takdirnya selalu indah meskipun harus mengalami hal pahit namun kepercayaan akan hadirnya kebahagiaan itu akan menghantarkan kita pada satu titik kenyataan yang indah.                                     
























Menulis adalah obat segala kegelisahan yang menyelimuti hati

Ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf, semakin menjauh Yusuf darinya. Namun ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah datangkan Yusuf kepadanya.